Srikandi Patra, Secercah Asa bagi Kaum Difabel 

- Jumat, 21 Oktober 2022 | 10:01 WIB
Suaramerdeka.com / Amelia Hapsari MEMBATIK : Sejumlah penyandang difabel anggota kelompok Srikandi Patra mengerjakan proses membatik di lokasi tempat produksi sekaligus workshop di Desa Tawangsari, Teras, Boyolali.
Suaramerdeka.com / Amelia Hapsari MEMBATIK : Sejumlah penyandang difabel anggota kelompok Srikandi Patra mengerjakan proses membatik di lokasi tempat produksi sekaligus workshop di Desa Tawangsari, Teras, Boyolali.
Aktivitas di tempat produksi batik Srikandi Patra di Dusun Penjalinan, Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Boyolali siang itu cukup sibuk. Enam anggota kelompok yang semuanya merupakan penyandang difabel, terlihat telaten menorehkan canting di atas lembaran kain putih yang mereka pegang.
 
Sementara di bagian ruangan lainnya tampak beragam produk batik terpajang dengan rapi. Empat tahun sudah pekerjaan itu mereka jalani, tepatnya sejak kelompok Srikandi Patra dibentuk pada April 2018. Terkadang ada rasa bosan mendera. Tapi berkat tekad untuk menjadi mandiri, para difabel yang mayoritas kaum ibu-ibu itu tetap bertahan.
 
Kini, hasil manis telah dipetik. Dari usaha membatik, mereka bisa ikut menyokong perekonomian keluarga. "Sekarang bisa menghasilkan pendapatan sendiri meskipun jumlahnya tergantung penjualan, kadang banyak kadang sedikit," ujar Yuni Lestari (33), anggota Srikandi Patra.
 
Yuni bukan sembarang anggota. Dia adalah pioner yang menularkan ilmu membatik kepada rekannya sesama difabel. Kepada rombongan media Yogyakarta saat berkunjung ke tempat produksi, baru-baru ini,
Yuni menuturkan kisahnya berkecimpung di dunia batik. Semua berawal dari inisiasi Pertamina Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Boyolali, yang mengajaknya ikut pelatihan di Yakkum pada tahun 2017 silam. Mulanya, dia tertarik belajar menjahit namun gagal lantaran Yuni tidak pernah bangku pendidikan sama sekali, sedangkan persyaratannya minimal lulus SD.
 
Pantang menyerah, ibu satu anak itu kemudian menekuni pelatihan membatik. Dia bahkan sempat bekerja di sebuah pabrik di daerah Bantul, DIY. Setelah enam bulan, Yuni rindu pulang ke kampung halamannya di Tawangsari, Boyolali. Tidak sekedar kangen, penyandang tunadaksa itu juga ingin membagikan ilmu kepada orang-orang di desanya yang memiliki nasib sama.
 
"Saya ingin mengajari mereka supaya bisa mandiri. Kita harus membuktikan bahwa kita mampu," ucapnya.
Dari hasil mapping Pertamina terdapat 29 penyandang difabel di Tawangsari. Enam orang diantaranya ternyata tertarik belajar membatik hingga akhirnya difasilitasi oleh Pertamina dengan membentuk kelompok Srikandi Patra. BUMN itu memberikan bantuan secara menyeluruh mulai dari pelatihan, penyediaan sarpras gedung dan alat hingga pemasaran. 
 
Koordinator Srikandi Patra, Siti Patimah mengungkapkan, semula kelompoknya hanya memproduksi batik tulis. Seiring berjalannya waktu, produk dikembangkan dalam bentuk masker. "Awal pandemi dulu kami membuat masker. Sempat laku keras tapi setelah banyak produk serupa, penjualan jadi merosot," tuturnya.
 
Lantas, kelompoknya mencoba ide produksi suvenir berupa pouch dan totebag, serta sarung bantal sofa. Di lain sisi, usaha pembuatan baju batik juga tetap berjalan. Mereka bahkan mengembangkan kerjasama dengan kelompok Kresna Patra yang juga dibawah pemberdayaan Pertamina, untuk proses menjahitnya. 
Namun diakui Siti, kelompoknya masih terkendala masalah pemasaran. Meski sudah merambah ke marketplace dan media sosial, produk batik hasil karya difabel ini belum banyak dilirik. Selama ini, pemasaran masih sebatas lingkungan sekitar dan order dari beberapa instansi.
 
Bandrolan harga yang tinggi menjadi salah satu penyebabnya. "Semisal produsen lain menjual di kisaran harga Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu, harga di tempat kami sekitar Rp 600 ribu. Konsumen umumnya memilih yang lebih murah," ujarnya.
 
Namun untuk menekan harga bukanlah sesuatu yang gampang bagi mereka. Pasalnya, harga bahan baku saja sudah tinggi. Produk Srikandi Patra memakai kain berkualitas bagus sehingga harganya lebih mahal. 
Tapi kendala utamanya adalah proses pewarnaan yang masih menggunakan jasa pihak lain.
 
"Kami sulit melakukan pewarnaan sendiri karena lokasi tempat produksi ada di dekat sungai, dan lahan pertanian. Takutnya nanti mencemari lingkungan sekalipun pewarna yang kami pakai adalah bahan alam," kata Siti.
 
Area Manager Communication, Relations & CSR Jawa Bagian Tengah Pertamina  Patra Niaga, Brasto Galih Nugroho mengatakan, pihaknya akan terus mendampingi kelompok binaan hingga bisa mandiri. Di wilayah Jawa Bagian Tengah sendiri, pihaknya sudah mendapatkan empat Proper Emas salah satunya adalah TBBM Boyolali. 
 
Sejauh ini sudah ada tiga kelompok difabel yang didampingi oleh tim dari Boyolali. Khusus kelompok Srikandi Patra bahkan pernah mendapat atensi dari Staf Khusus Presiden yang berkunjung langsung ke lokasi.

Editor: M. Nur Chakim

Tags

Terkini

LKPP Targetkan 3,5 Juta Produk di E-Katalog Tahun 2023

Jumat, 23 Desember 2022 | 22:00 WIB

Sambut Bonus Demografi 2030, Menaker Ida: Fokus 5C

Jumat, 16 Desember 2022 | 18:29 WIB

KPK: Jaminan Kesehatan Banyak Dikorupsi

Kamis, 8 Desember 2022 | 17:00 WIB

Lord Rangga Diduga Meninggal Karena Terlalu Capek

Rabu, 7 Desember 2022 | 12:43 WIB

Kadin: B20 Momentum Pemulihan Ekonomi Pascapandemi

Rabu, 16 November 2022 | 17:45 WIB

Putin Tidak Akan Hadir di G20 Bali !

Kamis, 10 November 2022 | 10:42 WIB
X