Lestarikan Kesenian Daerah, Wayang Othok Obrol Lolos WBTB

- Kamis, 31 Maret 2022 | 13:24 WIB
SM/Dok
SM/Dok

WONOSOBO, suaramerdeka-kedu.com -  jenis wayang hidup dan berkembang di Indonesia. Salah satunya adalah wayang othok obrol yang kini hampir punah. Upaya pelestarian wayang itu terus dilakukan.

WAYANG adalah pertunjukan kebudayaan masyarakat Nusantara. Kehadirannya sudah ada sejak era kerajaan Hindu Buddha dengan berbagai macam lakon yang mengandung pesan luhur untuk penontonnya.

Masyarakat pada umumnya mengenal wayang dengan cerita Ramayana yang mengisahkan perjuangan Pandawa melawan Kurawa. Beragam lakon dibalut dengan
alunan gamelan, nyanyian sinden, dan suluk dalang yang bertujuan membawa para penonton masuk ke dalam cerita yang dibawakan.

Lambat laun kesenian asli Tanah Air itu mulai tergerus zaman, bahkan nyaris punah.
Salah satunya yakni wayang othok obrol di Wonosobo. Sejumlah pihak berupaya melestarikannya agar tetap hidup.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Wonosobo Agus Wibowo, wayang othok obrol merupakan ”sempalan” wayang Kedu yang berkembang sejak tahun 1620-an pada era pemerintahan Sultan Agung selaku Raja Mataram, dengan dalang Ki Gondo Wiradipa.

”Pada beberapa generasi selanjutnya, wayang Kedu berkembang pula di wilayah Kabupaten Wonosobo. Wayang ini tumbuh di Desa Selokromo, Kecamatan Leksono, namun dengan pakem yang berbeda,” jelasnya.

Dibanding wayang gagrak (gaya) Mataram pada umumnya, wayang othok
obrol mempunyai ciri khas tersendiri. Antara lain sunggingan tokoh wayang dan suluk dalang yang berbeda, ketiadaan sinden atau wiraswara, gamelan yang tidak lengkap atau hanya tujuh alat gamelan, notasi gamelannya yang lebih sederhana, dan biasanya lebih banyak menggelar lakon ruwatan.

”Wayang othok obrol membawakan kisah dari Mahabarata dan Ramayana
dengan lakon seperti Murti Serat, Raja Kengsi, Andhaliretna, atau yang paling
populer Semar Supit dan Semar Cukur. Pembawaan lakon yang merakyat dan
ringan namun bermakna inilah yang membuat wayang othok obrol populer.
Terlebih, hanya membutuhkan satu dalang dan delapan niyaga (penabuh
gamelan), tanpa sinden, sehingga biaya operasionalnya cukup terjangkau,”
ungkap Agus.

Popularitas kesenian wayang othok obrol meredup seiring dengan arus globalisasi dan perkembangan media sosial. Di sisi lain, wayang itu dinilai terlalu
pakem dan tidak mampu menyesuaikan dengan tuntutan zaman, sehingga perlahan-lahan kehilangan pasarnya.

Halaman:

Editor: M. Nur Chakim

Tags

Terkini

Luhut Minta DPR Tak Cari Popularitas

Jumat, 10 Juni 2022 | 10:23 WIB
X