Muhibah Budaya Persembahkan Sajian Teatrikal Heroik Perjuangan Rakyat Wonosobo

- Rabu, 23 November 2022 | 08:23 WIB
PERJUANGAN - Penampilan teatrikal kisah heroik perjuangan rakyat Wonosobo dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan, di halaman Gedung Sasana Adipura Kencana, Senin (22/11). (Pelangi Karismakristi)
PERJUANGAN - Penampilan teatrikal kisah heroik perjuangan rakyat Wonosobo dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan, di halaman Gedung Sasana Adipura Kencana, Senin (22/11). (Pelangi Karismakristi)

WONOSOBO, suaramerdeka-kedu.com- Sebuah teatrikal yang mengisahkan kisah heroik perjuangan rakyat Wonosobo dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan berhasil memukau penonton. Pertunjukan tersebut merupakan salah satu rangkaian acara dari Muhibah Budaya yang berlangsung pada 21 hingga 22 November 2022.

Pertunjukan teatrikal dimulai dengan penampilan dari beberapa penari lengger, kemudian disusul para pemain perempuan yang mengenakan pakaian jadul berupa kebaya. Dalam adegan awal, mereka digambarkan tengah beraktivitas jual beli di pasar. Namun tak lama kemudian, suasana berubah mencekam setelah ada kabar tentang kependudukan Belanda di Wonosobo.

Penonton juga dibawa pada atmosfer peperangan berpuluh tahun lalu. Hal ini digambarkan pada adegan peperangan antara Belanda dengan para pejuang dari Wonosobo di bawah komando dari Kolonel Bambang Sugeng. Suasana mencekam terasa saat para pasukan ini melakukan gencatan senjata, pun terdengar suara tembakan, yang diperagakan dengan petasan kembang api.

Baca Juga: Tingkatkan Ekonomi Dengan Pelatihan Keterampilan

Salah satu penonton, Silviana (20) mengaku terpukau dengan pertunjukan tersebut. Adegan favoritnya adalah ketika para pejuang berusaha menumpas para penjajah. "Bahasa yang digunakan pun mudah dipahami. Kami jadi paham sejarah, dan ini bisa jadi referensi untuk pementasan teater," tutur Silviana yang juga hobi bermain peran teater ini kepada Suara Meredeka, Senin (22/11).

Sementara itu, sutradara dari pertunjukan teatrikal sejarah tersebut, Eko Isdianto menjelaskan, pementasan tersebut menceritakan peran Kolonel Bambang Sugeng sebagai Panglima Divisi 3 Diponegoro, yang mengomando wilayah Jawa Tengah, Kedu dan Yogyakarta. Di mana dia bersama pasukannya membuat siasat penyerangan kedudukan penjajah pada Agresi Militer 2 Belanda di Indonesia.

"Dia punya peranan penting dalam Serangan Umum Satu Maret di Yogyakarta, dan membuat strategi yang matang bersama dengan markas besar Komando Jawa di Samigaluh. Di mana tentara kita bisa membuktikan bahwa pemerintahan Republik Indonesia masih ada serta memukul propaganda Belanda yang memberitakan berita bohong, soal pemerintah Indonesia tidak ada," beber Eko.

Baca Juga: DPRD Kota Magelang Sepakati Raperda APBD 2023

Dalam pagelaran tersebut, lanjut Eko, membutuhkan sekitar 50 pemain, yang berasal dari Yogyakarta dan Wonosobo. Dia mengatakan, para pemain hanya melakukan tiga kali latihan di Yogyakarta, sedangkan latihan gabungan bersama pemain dari Wonosobo baru dilakukan Minggu (21/11) sore. "Kendalanya kemarin karena hujan saat latihan jadi kami harus pindah-pindah, tapi sejauh ini mereka sangat enjoy dan sangat semangat. Kami harap pertunjukan ini bisa merawat ingatan soal sejarah di Indonesia, terutama di Wonosobo," ucap dia.

Halaman:

Editor: M. Nur Chakim

Terkini

KPU Temanggung Tetapkan 6 Dapil Pemilu 2024 Mendatang

Senin, 28 November 2022 | 18:40 WIB

3 Anggota Keluarga Tewas di Magelang, Dugaan Diracun

Senin, 28 November 2022 | 15:39 WIB

Kota Magelang Raih 6 STBM Award dari Kemenkes

Sabtu, 26 November 2022 | 10:15 WIB

Pelajar Gelar Doa Bersama, Untuk Korban Cianjur

Sabtu, 26 November 2022 | 10:14 WIB

1.300 Petani Tolak Kenaikan Cukai

Sabtu, 26 November 2022 | 10:02 WIB
X