Indonesia Bertutur, Ajang Respons Cagar Budaya Lewat Teknologi Mutakhir

- Rabu, 7 September 2022 | 17:07 WIB
Instalasi karya Mella Jaarsma dan Agus Ongge bertajuk At First There is Black di Museum Haji Widayat, Rabu (7/9/2022). Ini jadi bagian dari program Indonesia Bertutur yang digelar di kawasan Borobudur, 7-11 September. (Suara Merdeka/Birru Rakaitadewa)
Instalasi karya Mella Jaarsma dan Agus Ongge bertajuk At First There is Black di Museum Haji Widayat, Rabu (7/9/2022). Ini jadi bagian dari program Indonesia Bertutur yang digelar di kawasan Borobudur, 7-11 September. (Suara Merdeka/Birru Rakaitadewa)

MAGELANG, SUARA MERDEKA - Seniman diminta merespons warisan cagar budaya dengan memanfaatkan teknologi mutakhir. Fungsinya, agar publik memiliki akses yang semakin terbuka terhadap warisan budaya yang kita miliki.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud Ristek Hilmar Farid Setiadi di sela pra pembukaan Festival Indonesia Bertutur di Museum Haji Widayat, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Rabu (7/9/2022).

Hilmar menuturkan Indonesia Bertutur fokus pada refleksi atas cagar budaya dengan menggunakan media mutakhir, semacam respons kekinian terhadap masa lalu. Festival ini pun dirancang sebagai kegiatan dua tahunan.

"Kami ingin mendorong pemanfaatan teknologi agar publik memiliki akses yang semakin besar terhadap warisan budaya yang kita miliki dan dapat memanfaatkan warisan budaya tersebut sebagai sumber ilmu pengetahuan," jelas dia.

Direktorat Jenderal Kebudayaan menggelar Indonesia Bertutur di kawasan Candi Borobudur mulai 7-11 September. Lebih kurang 900 pelaku budaya terlibat dan ada sekitar 116 karya yang dipamerkan.

Baca Juga: G20 di Candi Borobudur, Ini Agendanya

Mengusung tema Mengalami Masa Lalu, Menumbuhkan Masa Depan, Indonesia Bertutur menampilkan 20 cagar budaya sebagai materi yang dipilih para seniman dalam karya mereka.

Cagar budaya itu antara lain Sangiran, Liang Bua, LeangLeang, Gugus Misool (Raja Ampat), Sangkulirang, Lore Lindu, Kutai, Tarumanegara, kompleks Candi Dieng, Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Prambanan, Candi Gunung Kawi, Muara Takus, Muaro Jambi, Candi Jago, Candi Singosari, Trowulan, dan Candi Bahal.

Karya-karya yang ditampilkan berupa pemetaan video (video mapping), instalasi yang menggunakan teknologi pencahayaan, film, musik, tari, teater, dan lain-lain.

Selain Candi Borobudur, ada empat galeri yang menjadi ruang pamer, yakni Museum Haji Widayat, Apel Watoe Contemporary Art Gallery, Eloprogo Art House, dan Limanjawi Art House.

Halaman:

Editor: M. Nur Chakim

Tags

Terkini

SMA N 3 Magelang Kini Miliki Layanan Digitalisasi

Kamis, 1 Desember 2022 | 19:30 WIB

'Symphony Rindu' ala Ketep Summit Fest Digelar Besok

Kamis, 1 Desember 2022 | 09:00 WIB

Gebyar Literasi Matansa Songsong HAB Kemenag

Rabu, 30 November 2022 | 15:57 WIB

MTs 1 Kebumen Rebut 1.168 Medali di Event MIO

Rabu, 30 November 2022 | 15:54 WIB

Pemuda Desa Nampudadi Dilatih Jurnalistik

Rabu, 30 November 2022 | 15:52 WIB
X