Belajar Budaya Melalui Lembaran Kain Batik

- Senin, 16 Mei 2022 | 19:49 WIB
Founder Batik Dieng Kalingga Desi Kristiana sedang membuat motif batik yang menceritakan Desa Lengkong di kediaman yang juga galeri kecilnyanya, Kejiwan RT 6 RW 2, Jumat (13/5). (SM/Pelangi Karismakristi)
Founder Batik Dieng Kalingga Desi Kristiana sedang membuat motif batik yang menceritakan Desa Lengkong di kediaman yang juga galeri kecilnyanya, Kejiwan RT 6 RW 2, Jumat (13/5). (SM/Pelangi Karismakristi)

WONOSOBO, suaramerdeka-kedu.com - Batik Wonosobo memiliki daya pikat sendiri, terutama pada motifnya yang menceritakan kekayaan alam maupun budaya. Di Wonosobo telah lahir banyak sekali pembatik, salah satunya adalah Dieng Kalingga. Jika dilihat dari motif dan pewarnaannya, termasuk dalam jenis batik tulis kontemporer.

Founder Batik Dieng Kalingga Desi Kristiana telah menggeluti dunia batik sejak 2016, bermula saat dia mengikuti pelatihan membatik dari Disdagkop UMKM. Lalu ia mencoba membuat sendiri di rumah, kemudian join di salah satu rumah batik selama kurang lebih hampir tiga tahun.

"Kerja dari 2017 lalu saya berpikir kerja meninggalkan rumah, anak-anak juga saya tinggal. Kenapa saya tidak coba merintis galeri batik sendiri, akhirnya pada 2019 saya bikin Dieng Kalingga," tutur Desi kepada Suara Merdeka, Jumat (13/5).

Perempuan yang juga hobi naik gunung ini menjelaskan bahwa Dieng Kalingga merupakan batik tulis kontemporer. Hal ini kentara sekali dari pewarnaan yang cerah seperti pink, biru, merah, ungu. Motifnya juga sanga beragam, mulai dari lengger punjen, daun carica, purwaceng, bundengan, fauna khas Wonosobo dan bundengan.

"Produk kami batik asli handmade. Saya mencoba kenapa tidak budaya Wonosobo didokumentasikan pada selembar kain, agat tidak diklaim daerah lain. Sedangkan warna yang cerah saya terinspirasi dari lengger punjen," tukasnya.

Desi menambahkan untuk membuat batik dengan motif simpel butuh waktu tiga hari dari mulai menggambar motif, menyanting, mengunci warna, perebusan hingga dijemur. Dalam selembar kain batik jadi dijual dengan harga Rp250 ribu.

Produknya dipasarkan melalui instagram, selain itu ia rajin ikut pelatihan yang biasanya membawa karya terbaiknya. Sehingga orang semakin mengenal produknya, terbukti Batik Dieng Kalingga pernah menerima pesanan masker dari salah satu kementerian pusat sebanyak 450. Tak jarang juga ia menerima pesanan seragam dengan jumlah yang cukup banyak, hingga 100 lembar kain.

Saat ini Desi juga mentransfer ilmu membatiknya melalui ekstrakulikuler di salah satu sekolah menengah pertama. Setidaknya ada 20 anak yang mengukuti kelasnya, bahkan ada beberapa yang ingin mendalami hingga datang langsung ke galeri kecilnya yang terletak di sebelah barat Kolam Renang Mangli, Kejiwan RT 6 RW 2.

"Mereka sangat antusias. Saya senang kalau mengajar adik-adik itu karena mereka justru sangat kreatif dan menghasilkan karya yang luar biasa. Buat mereka yang tidak datang saat ekskul karena hujan, biasanya datang sendiri ke rumah," ucap ibu dua anak ini.

Halaman:

Editor: M. Nur Chakim

Tags

Artikel Terkait

Terkini

KPPN Magelang Serahkan DIPA dan Alokasi TKD 2023

Jumat, 9 Desember 2022 | 16:14 WIB

Pembangunan Puskesmas Bejen Molor

Jumat, 9 Desember 2022 | 15:26 WIB

DPRD Dorong Perbup Disabilitas Segera Dibuat

Rabu, 7 Desember 2022 | 13:16 WIB

Pemkot Magelang Raih SAKIP Predikat BB

Selasa, 6 Desember 2022 | 17:28 WIB
X