Yang Tak Pecah dari Lukisan Kaca Nugi

- Minggu, 9 Januari 2022 | 16:11 WIB
Nugi, pelukis kaca asal Magelang, menunjukkan lukisan kaca bertitel Lanskap Borobudur (2022) di studio lukisnya di Borobudur Peace Studio, Jumat (7/1/2022). (Suara Merdeka/Birru Rakaitadewa)
Nugi, pelukis kaca asal Magelang, menunjukkan lukisan kaca bertitel Lanskap Borobudur (2022) di studio lukisnya di Borobudur Peace Studio, Jumat (7/1/2022). (Suara Merdeka/Birru Rakaitadewa)

MAGELANG, suaramerdeka-kedu.com - Pemandangan saban hari Nugi kecil adalah aktivitas ayahnya melukis. Kaca, medium lukisan Waged--ayah dari Nugi, medium yang membikin nama Waged kondang. Dia ikut membantu ayahnya, sambil mengamati dan mengamati.

Gaya lukisan Waged dengan menganggit tema wayang, terpatri benar dalam benak Nugi. Usia belasan sewaktu SD, awal 90-an, dia menorehkan karya lukis wayang pertamanya, juga pada medium kaca.

"Melukis wayang cukup menarik bagi saya. Karena menantang ketelitian, kerapian, kedetailan," kata lelaki berusia 43 tahun tersebut di studio lukisnya, Borobudur Peace Studio, Kecamatan Borobudur, Jumat (7/1) siang.

Menurut Nugi, tekniknya melukis kaca kian matang sejak kelahiran karya pertama. Dari sini pula ia mendapatkan uang dengan banyaknya pesanan lukisan wayang.

Lama-kelamaan, ia jenuh dengan objek wayang. Sempat bereksperimen dengan mereduksi dimensi wayang hingga kecil, tapi ia merasa jemu. Muara kejenuhannya ialah penggunaan
warna yang nisbi kaku dan terpaku dengan pakem dalam melukis wayang.

"Saya tidak bisa melakukan kenakalan-kenakalan terhadap cat," tuturnya sambil menerawang jauh ke depan.

Baca Juga: Peace Village Inisiasi Borobudur Peace Studio di Magelang

Di tengah persimpangan antara meneruskan aliran "pop" atau menjajal lahan ide yang baru, Nugi memilih opsi kedua. Dia berkreasi tanpa terikat tema ataupun gaya yang sudah diakrabi
begitu lama, kendati tetap dengan medium kaca dan, tentu, kanvas.

Momen tersebut, aku Nugi, berlangsung sekira warsa 2003. Ia beringsut ke tema-tema lingkungan sekitarnya; hiruk-pikuk pasar, pohon pisang di suatu tempat, rongsokan barang, dan potret penari perempuan.

"Saya cari objek (lukisan) keliling, keluar masuk kampung, kadang di persawahan, biasanya saya foto atau nyeket (di tempat)," imbuh pria yang pernah tercatat sebagai mahasiswa
ISI Yogyakarta jurusan seni lukis itu.

Halaman:

Editor: M. Nur Chakim

Tags

Terkini

Kemenkeu Jateng, Paparkan Kinerja Positif APBN 2022

Jumat, 27 Januari 2023 | 19:03 WIB

Polda Jateng Mulai Uji Coba Drone Tilang Elektronik

Jumat, 27 Januari 2023 | 18:07 WIB

Realisasi PAD Kota Magelang Naik Signifikan

Jumat, 27 Januari 2023 | 17:00 WIB

Barongsai Sebagai Simbol Pembawa Berkah

Rabu, 25 Januari 2023 | 15:09 WIB

Sedapnya Kue Keranjang Imlek Balutan Daun Pisang

Rabu, 25 Januari 2023 | 15:04 WIB
X